Radikalisme Minoritas Lewat Makian 'Tiko', Pegiat Kebhinekaan Cuma Bisa Mingkem

Loading...


Kasus pelecehan bernuansa rasis yang dialami oleh Gubernur NTB Zainul Majdi yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB), di Bandara Changi, Singapura, telah menyentak kita.

Banyak yang menyampaikan rasa hormat kepada TGB karena telah memberikan teladan seorang pemimpin yang arif bijaksana kepada bangsa ini.

Betapa tidak, usai dimaki, TGB tidak menjawab, tidak pula berbantahan, beliau dan istri memilih berpindah jalur antrian tiket.

Dari sebuah sikap, mengantre tiket, saja dapat diperoleh gambaran kesederhanaan Gubernur NTB yang merupakan salah satu kader terbaik Partai Demokrat.

TGB mungkin tak ingin memperpanjang persoalan dan telah memaafkan pelaku. Namun rakyat NTB tak terima. Mereka pun memilih menyatakan sikap di Islamic Center selepas salat Jumat hari ini, 14 April 2017.

“Ini soal marwah dan kewibawaan pemimpin kita apalagi beliau seorang Ulama, boleh beliau memaafkan pelaku tetapi tetap harus diproses hukum dan kita tidak boleh tinggal diam,” kata Deddy AZ ketua Aliansi Umat Islam NTB.

Anehnya, kasus yang menimpa TGB ini justru membuat para panglima kebhinnekaan yang selama ini sibuk berkoar-koar berteriak menentang radikalisme dan SARA, mendadak bungkam.

Tak ada satu kata pun dari what so called aktivis pembela NKRI, santri Islam Nusantara dan seabreg nama alias yang melekat seolah hanya mereka lah yang paling mengerti bhinneka, terkait kasus yang dialami TGB.

MEREKA BUNGKAM!

Bagi para 'panglima kebhinnekaan', bhinneka hanya berarti kelompok mayoritas harus menerima dan menghormati kelompok minoritas.

Seolah mereka ingin menegaskan, "Jika kelompok minoritas menjadi tiran atas kelompok mayoritas, itu bukan urusan kami".

Bhinneka berarti kelompok minoritas bebas menghina dan jika kelompok mayoritas marah atas hinaan tersebut, maka artinya kelompok mayoritas INTOLERAN, PEMARAH, DAN 'BERSUMBU' PENDEK!

Kelompol mayoritas dituntut untuk harus adem, kalem, dan tak boleh bergejolak.

Bisakah kita berandai-andai. Seandainya... ya, seandainya saja peristiwa yang dialami TGB kita terjadi pada Ahok, sosok yang selama ini dijadikan simbol dan icon minoritas yang tertindas.

Seandainya Ahoklah yang mengalami peristiwa ini, dimaki oleh seorang warga muslim, dan diteriaki, "Dasar Cokin! Dasar Aseng gomba!", kira-kira, apa reaksi para 'panglima kebhinnekaan' itu?

Meski tak rela, caci maki dan hinaan kepada seorang hafizh seperti TGB dianggap lunas oleh sebuah kertas permohonan maaf bermeterai 6000, namun TGB telah menempuh jalan kemuliaannya sendiri. TGB memilih memaafkan.

Berikut beberapa ekspresi netizen menanggapi kasus TGB:











Loading...

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.