Senjata Impor Polri Ditarik ke Kemenkopolhukam.

Loading...


Ratusan pucuk senjata Stand Alone Grenade Launcher (SAGL) yang baru saja diterima Polri ditarik Kementerian Politik, Hukum, dan Keamanan. Sebab, polemik impor senjata yang diributkan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo beberapa waktu lalu, tengah ditangani Menkopolhukam Wiranto.

"Sekarang permasalahan itu (senjata) sudah ditarik oleh Kementrian Polhukam. Ya sudah diserahkan ke BAIS dan sudah diangkat ke Polkam," ujar Kadiv Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto di Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Pondok Gede, Jakarta, Minggu (1/10).

Dia menerangkan, senjata-senjata tersebut akan digunakan dalam pengendalian massa. "Untuk Poso, Papua, tempat oprasi-operasi yang dihutan-hutan," tukas Setyo.

Sebelumnya, Panglima TNI Gatot Nurmantyo menyebut adanya 5.000 senjata yang diimpor secara ilegal di luar institusinya hingga mencatut nama Presiden Joko Widodo. Hal tersebut langsung menarik perhatian banyak pihak.

Pekan lalu pun Wiranto menggelar konferensi pers bahwa senjata tersebut hanya berjumlah 500 pucuk laras pendek buatan PINDAD oleh BIN untuk keperluan pendidikan intelijen.

Sementara kemarin, Polri mengakui adanya impor ratusan senjata berat. Senjata tersebut dipersiapkan untuk anggota Korps Brimob. Pengadaan alat senjat berat tersebut diklaim sudah melalui proses anggaran yang sah serta melalui perizinan TNI.

"Barang yang ada di Bandara Soetta yang dimaksud oleh rekan-rekan adalah betul milik Polri dan barang yang sah sesuai prosedur," kata Kadiv Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto, di Mabes Polri, Jakarta, Sabtu (30/9).

Dari informasi yang didapat, impor senjata api dan amunisi untuk Korps Brimob Polri dilakukan oleh PT. Mustika Duta Mas. Kargo berisi senjata itu sendiri tiba pesawat maskapai Ukraine Air Alliance dengan nomor penerbangan UKL 4024, pada Jumat (29/9) pukul 23.30 WIB.

Adapun isinya tergolong senjata berat. Pertama, sebanyak 280 pucuk senjata Stand Alone Grenade Launcher (SAGL) kaliber 40 x 46mm. Senjata itu dikemas dalam 28 kotak (10 pucuk/kotak), dengan berat total 2.212 kg.

Amunisi RLV-HEFJ kaliber 40x 46mm, yang dikemas dalam 70 boks (84 butir/boks) dan 1 boks (52 butir). Totalnya mencapai 5.932 butir (71 boks) dengan berat 2.829 kg.

Kedua jenis senjata itu merupakan standar militer. SAGL, menurut situs arsenal-bg.com, merupakan senjata pelontar granat tipe M 406. Sementara, RLV-HEFJ adalah amunisi granat yang digunakan sebagai senjata serbu militer untuk menghancurkan kendaraan atau meterial lapis baja ringan.

Sementara, alamat penerimanya adalah Bendahara Pengeluaran Korps Brimob Polri, Kesatriaan Amji Antak, Kelapa Dua, Cimanggis, Indonesia.

Barang mulai diturunkan dari pesawat, pada pukul 23.45 WIB. Aktivitas bongkar muat itu rampung pada Sabtu (30/9) pukul 01.25 WIB. Barang kemudian digeser ke Kargo Unex.

Kargo tersebut dinilai masih membutuhkan rekomendasi dari Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI dan lolos proses kepabeanan. Pihak Korps Brimob Polri disebut tidak akan mengambil barang tersebut sebelum kedua proses itu rampung. [beritaislam24h.info / jpc]
Loading...

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.